Oleh: Ahmad Asrori, S.H.

Guru Agama PMS Kendal

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat muslim. Isra’ mi’raj memiliki unusur alogic (tidak masuk akal) dan teologis. Wajib hukumnya bagi umat muslim untuk memepercayainya. Ada satu orang yang yang pertamakali mempercayai hal tersebut, yakni sahabat Abu Bakar. Dengan inilah, sahabat Abu Bakar mendapatkan gelar As-Shiddiq (orang yang dapat dipercaya).

            Persitiwa Isra’ Mi’raj diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, yakni di dalam Al-Qur’an surat al-Isrā’ ayat 1 dengan kalimat takjub (ta’ajjub), yakni  kalimat “subhâna”. Keta’juban ini,  maksudnya adalah Allah memuji diri-Nya sendiri, sebagai Dzat yang menjalankan hamba-Nya dari masjid Al-Haram ke masjid al-Aqsha (Tafsr Muqatil Bin Sulaiman, 1423 H). 

            Setelah itu, Al-Qur’an menggunakan redaksi asrā (أسرى) sebagai bentuk kata kerja yang membutuhkan objek, yang artinya adalah menjalankan. Kemudian yang mejadi pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang dijalankan? Maka, jawabannya sudah pasti, yakni Nabi Muhammad. Kata yang diapakai Al-Qur’an adalah menggunakan kata hambanya (بعبده). Jadi bukan berbentuk ruh dari pada hambanya, melainkan jasad hambanya.

            Allah dengan sengaja menggunakan kata ‘Abd sebagai objeknya karena sebagai daya tarik (ta’ajjub). Jikalau Nabi Muhammad hanya bermimpi atau hanya ruh yang di isra’kan, maka hal itu tidak akan membuat menarik. Sebab, semua orang juga bisa bermimpi dan ruhnya bisa kemana-mana ketika bermimpi. Bahkan, kenapa bisa satu malam? Apakah Allah tidak mampu jika dengan angka lebih kecil? Tentu Allah mampu.Akan tetapi, Allah ingin memperlihatkan kebesaran-Nya pada momen ini pada Nabi Muhammad.

            Nabi Muhammad dapat bercerita tentang pertemuan dengan beberapa golongan dan suku selama perjalanan tersebut dengan detail. Bahkan, Nabi mampu menjawab pertanyaan orang-orang yang mencoba melemahkannya. Yakni tentang Masjid Al-Aqsa. Hal demikian dapat dipatahkan oleh Nabi dengan jawaban yang sesuai dan tepat sesuai pengalaman dan pertanyaan yang disampaikan pada Nabi.

            Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj

            Setiap peristiwa pasti memiliki hikmah yang dapat diambil pelajaran. Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa besar yang dialami Nabi Muhammad. Isra’ Mi’raj mengandung kisah  dengan aroma teologis yang sangat kuat. Di antara hikmah yang dapat kita petik adalah. Pertama, sebagai bahan ujian keimanan. Orang yang beriman akan mempercayai dengan sepenuh hati, bahwa persitiwa tersebut benar terjadi, sebaliknya bagi orang yang beriman maka hal itu hanyala kebohongan semata.

            Kedua, sebagai Jalan spiritual. Perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid Al-Aqsa ke langit ‘Sidratul Muntaha’ untuk menghadap Allah, menjadi sebuah peristiwa yang berdimensi spiritual yang menunjukkan, bahwa, manusia harus mendekatkan diri kepada penciptanya. Puncak  peristiwa ini sebagai rahmat bagi Nabi Muhammad bisa menghadap Tuhannya.

Shalat Sebagai Wujud Perjumpaan Nabi dan Tuhannya

            Pertemuan Nabi Muhamad dengan Allah diumpamakan saat di dalam shalat, yakni saat posisi membaca’antahiyyat (penghormatan) tiap akhir shalat. Seharusnya, ketika shalat umat muslim dapat berada dalam situasi klimaks dan kenikmatan menghadap Allah. Posisi ketika shalat merupakan kenikmatan bagi seorang hamba sahaya dapat bertemu dengan Tuhannya.

            Dengan demikian, orang muslim harus menjadikan peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai refleksi menjadi lebih baik dalam segala hal, terutama dalam hal sholat. Sebab, sholat merupakan ibadah yang langsung ditunjukan caranya dan diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Sholat diharapkan menjadi tameng dan pengingat, ketika seorang hamba melakukan kesalahan, jadi tidak hanya sebatas ritual ibadah fisik belaka. Wallahu A’lamu Bi Al-Showaab.

21 Comments

    1. Shalat bukan hanya sekedar menggugurkaan kewajiban semata tapi shalat bisa membekas sikap prilaku kita dari mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Leave a Comment